PPG GURU TERTENTU TAHAP 3 TAHUN 2025 JURNAL PEMBELAJARAN FILOSOFI PENDIDIKAN PENERAPAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DENGAN KEBIASAAN CIUM TANGAN
PPG GURU TERTENTU TAHAP 3 TAHUN 2025
JURNAL PEMBELAJARAN FILOSOFI PENDIDIKAN
PENERAPAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DENGAN KEBIASAAN CIUM TANGAN
Disusun Oleh
Nama : Supriyanto
NIM : 2501094066
Tempat Tugas : SMP Aqwiya Cilongok Banyumas
LPTK : Universitas Widya Dharma Klaten
1. Filosofi Pendidikan Indonesia
Sejarah pendidikan Indonesia sebenarnya sudah ada di Indonesia, namun tidak terorganisasi secara baik. Pendidikan dilaksanakan di lingkungan keluarga. Sampai masuknya pengaruh budaya dan agama yang kemudian mengajarkan pendidikannya di suatu tempat di dekat tempat ibadah.
Setelah adanya kesadaran kebangkitan bangsa akibat adanya penjajahan dari Belanda. Dengan dipelopori oleh pemuda yang tengah belajar di Belanda, dengan berdirinya Bumi Putera pada tahun 1854, yang bertujuan untuk mendidik calon pegawai pemerintahan dan rakyat diajarkan hanya sebatas membaca, menulis, dan berhitung seadanya, yang bertujuan membantu usaha dagang pemerintah Hindia Belanda . keadaan ini mendorong Ki Hajar Dewantara untuk memperjuangkan nasib bangsanya, sehingga KHD diasingkan karena mengkritik kebijakan Belanda dengan diasingkan ke negri Belanda, akibat tulisan KHD. Pengasingan di Belanda KHD mendapatkan pemahaman tentang pendidikan, setelah kembali ke tanah air diterapkan dengan mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922 di Yogyakarta.
Menurut Ki Hajar Dewantara (2009)….“Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”. menurutnya pengajaran/onderwijs sebagai bagian dari pendidikan, yang memiliki arti proses dari pendidikan dalam memberikan ilmu yang berguna untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Pendidikan/opvoeding adalah memberikan tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki oleh seorang anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia atau masyarakat
Ki Hajar Dewantara yakin untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka perlu adanya pendidikan. Seorang pendidik hanya menuntun tumbuhnya kodrat yang ada sehingga dapat memperbaiki perilakunya . Pendidik hanya berperan sebagai pamong yang menuntun dan memberikan arahan sehingga anak tidak salah jalan. Seorang pendidik/pamong dapat memberikan tuntunan agar dapat menemukan kemerdekaan dalam belajar. Membimbing dan mendidik anak hendaknya sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya agar anak memiliki budi pekerti yang luhur dan mulia.
Menuntun perilaku anak agar memiliki budi pekerti yang luhur dan mulia maka seorang pendidik dapat membimbing anak melalui berbagai cara dan metode atau pendekatan, baik dengan menggunakan panca indera maupun dengan permainan anak-anak, karena dengan permainan yang sesuai dapat memberikan kegembiraan bagi anak, atau dengan kata lain mendidik sama artinya dengan menuntun dengan pola pembelajaran yang menyenangkan dan pendidikan yang berpihak pada anak.
Tujuan utama pendidikan yaitu Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi dan berperilaku dan berakhlak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Kerangka filosofi Merdeka Belajar mengacu pada 7 Profil Pelajar Pancasila yakni Beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, Berakhlak mulia, Kreatif, Gotong Royong, Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis dan Mandiri.
Tujuan utama pendidikan tersebut dapat tercapai dan Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan dapat terwujud pada tiap anak Indonesia, maka sebagai pendidik tentunya berupaya melakukan tugas sesuai dengan semboyan pendidikan yang diajarkan oleh KHD yaitu ” Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.” yang memiliki arti di depan bisa memberi contoh, di tengah memberikan semangat dan di belakang memberikan dorongan.
Pendidik berupaya menerapkannya dalam proses pembelajaran agar pembelajaran yang dilakukan dapat mencerminkan pemikiran KHD maka seorang pendidik itu sebaiknya selalu mengupayakan perubahan dan diharapkan yang berubah adalah budi pekerti dengan cara mengolah pikiran dan perasaan serta kemauan dan mengolah raga/tenaga, menciptakan pendidikan yang holistik/menyeluruh dan seimbang dan memandang setiap anak dengan penuh hormat, sehingga sebagai pendidik bebas dari segala ikatan, memiliki hati yang suci ketika mendekati anak dan tidak meminta suatu hak/balasan namun melakukan tugas mendidik dengan sikap melayani . Berupaya menjadi teladan, memberikan semangat dan memberikan dorongan kepada anak sesuai dengan trilogi pendidikan atau seperti semboyan dari bapak Ki Hajar Dewantara.
Semboyan dari KHD yaitu ” Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” dapat disimpulkan sebagai rangkuman dari keseluruhan pemikiran KI Hajar Dewantara.
2. Filosofi Pendidikan menurut UUD 1945
Filosofi pendidikan nasional Indonesia merupakan cerminan dari pandangan hidup bangsa, yang berpijak pada nilai-nilai luhur Pancasila, UUD 1945, dan budaya Indonesia. Prinsip utamanya yaitu menjadikan pendidikan sebagai sarana membentuk manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, berbudi pekerti luhur, serta memiliki wawasan kebangsaan.
Filosofi ini punya tujuan untuk membentuk generasi penerus yang unggul dari segi akademis, berjiwa nasional, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan
Dalam konteks ini,guru tidak hanya berperan sebagai pembawa materi, tetapi juga teladan nilai moral dan sosial bagi siswa. Karena itulah, guru harus memahami filosofi pendidikan yang termuat dalam Pancasila dengan baik.
3. Bentuk Filosofi Pendidikan dalam Pancasila
Pancasila sebagai dasar negara merupakan sumber nilai utama dalam sistem pendidikan Indonesia. Nilai-nilai seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial menjadi acuan utama dalam membentuk tujuan pendidikan nasional.
Kegiatan belajar dan mengajar di kelas tidak boleh lepas dari nilai-nilai yang ada dalam dasar negara ini. Berikut penerapan nilai-nilai Pancasila yang termuat dalam
Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa): Pendidikan harus menumbuhkan keimanan dan ketakwaan peserta didik terhadap Tuhan sesuai agama masing-masing.
Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Pendidikan harus menanamkan sikap saling menghargai hak dan kewajiban antarindividu dengan perilaku yang beradab.
Sila Ketiga (Persatuan Indonesia): Pendidikan harus mampu membentuk karakter peserta didik yang menghargai keberagaman dan menjaga persatuan dalam kehidupan berbangsa.
Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan): Pendidikan harus melatih siswa menjadi individu yang aktif, kritis, dan demokratis dalam menyelesaikan permasalahan sosial.
Sila Kelima (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia): Pendidikan harus mencetak peserta didik yang mampu menciptakan lingkungan yang adil dan sejahtera bagi semua.
4. Tujuan Pendidikan Nilai
Pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari nilai-nilai Pancasila. Penanaman nilai luhur ini disebut juga sebagai pendidikan nilai. Guru mengajarkan sifat kejujuran, tanggung-jawab, kedisiplinan, toleransi, dan empati kepada siswa.
Pendidikan nilai ini sejalan dengan pendidikan karakter karena melalui proses internalisasi nilai-nilai yang ada. Peserta didik dapat mengintegrasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Adapun tujuan utama dari pendidikan nilai
A. Menanamkan nilai-nilai utama dalam kehidupan peserta didik.
B. Membentuk sikap dan perilaku positif yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan.
C. Membimbing siswa untuk bertindak secara konsisten sesuai dengan norma sosial dan budaya.
5. Budaya Positif di Sekolah
Sesuai dengan konsep pemikiran dari bapak Ki Hajar Dewantara bahwa seorang pendidik itu harus dapat menuntun anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya sehingga anak dapat memiliki watak atau karakter yang baik dan pada akhirnya dapat membentuk perilaku yang baik pula. Menuntun budi pekerti anak, maka sebagai pendidik perlu berupaya menuntun anak dengan menerapkan budaya positif di sekolah.
Membangun budaya positif di sekolah maka sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar anak dapat berpikir, bertindak dan mencipta dengan secara merdeka, mandiri dan bertanggungjawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah. Terkait dengan disiplin ini maka semua warga sekolah perlu menyamakan persepsi tentang disiplin yang selama ini dikaitkan dengan kontrol yakni cara guru ketika menghadapi anak dalam hal kedisiplinan.
Seorang pendidik tentunya akan berupaya untuk menanamkan disiplin positif yang positif ini kepada anak didik, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar budaya positif ini dapat diwujudkan di sekolah yaitu :
a. Disiplin positif
Menanamkan disiplin positif kepada anak sebaiknya dimulai dari diri anak sendiri dengan pembiasaan disiplin diri dan disiplin waktu. Sebagai seorang guru yang diharapkan menjadi pemimpin pembelajaran dapat memberikan keteladanan terlebih dahulu kepada anak sehingga dengan sendirinya anak menyadari dan dapat membiasakan diri untuk dapat berdisiplin diri maupun disiplin waktu.
b. Posisi Kontrol Guru
Posisi yang dapat digunakan oleh guru dalam memantau budaya positif terhadap anak, khususnya dalam penanaman disiplin apakah sudah sesuai/efektif atau belum serta menjadi referensi guru dalam menyelesaikan masalah yang muncul di sekolah. Posisi kontrol guru antara lain sebagai Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer. Idealnya sebagai guru dapat menempatkan diri di posisi kontrol sebagai manajer dalam menyelesaikan permaslahan di sekolah.
c. Kebutuhan Dasar Manusia
Guru dan murid merupakan pribadi yang unik dan tentunya sebagai manusia, memiliki kebutuhan dasar yang harus terpenuhi. Kita menyadari bahwa apabila salah satu kebutuhan tidak terpenuhi maka dapat saja menjadi suatu konflik dan menimbulkan permasalahan. Kebutuhan dasar manusia diantaranya adalah bertahan hidup, cinta dan kasih sayang, penguasaan, kebebasan dan kesenangan.
d Keyakinan Kelas
Keyakinan Kelas hampir sama dengan kesepakatan kelas atau peraturan kelas yang dibuat di kelas maupun di sekolah. Dalam penyusunan keyakinan kelas perlu mengutamakan kolaborasi dengan siswa sehingga keyakinan kelas yang dibuat bersama dapat dilaksanakan secara konsisten dan sesuai dengan komitmen bersama.
e. Segitiga Restitusi
Segitiga Restitusi ini merupakan proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan, sehingga anak dapat kembali pada kelompoknya dengan karakter yang lebih kuat dari sebelumnya. Penerapan segitiga restitusi diawali dengan validasi tindakan yang salah, Menstabilkan identitas dan menanyakan keyakinan kelas.
===========================================================================
MODUL AJAR
BAB 1 : KEDUDUKAN DAN FUNGSI PANCASILA
PERTEMUAN 5 : PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA
INFORMASI UMUM
I. IDENTITAS MODUL
Nama Penyusun : Supriyanto .
Satuan Pendidikan : SMP Aqwiya Cilongok
Kelas / Fase : VIII (Delapan) - D
Mata Pelajaran : PKN
Prediksi Alokasi Waktu : 2 x 40 menit ( pertemuan )
Tahun Penyusunan : 2025/ 2026
II. KOMPETENSI AWAL
Bagian ini memberikan penjelasan terkait Pancasila yang menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila sendiri merupakan kristalisasi dari pengalaman hidup dalam sejarah panjang bangsa Indonesia yang telah membentuk karakter, perilaku, etika, tata nilai dan norma yang telah membentuk menjadi pandangan hidup bangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia mengedepankan cara-cara musyawarah untuk pengambilan keputusan dan mengatasi persoalan bangsa dan negara. Nilai keadilan sosial menjadikan Bangsa Indonesia sebuah bangsa yang dermawan dan gemar berbagi. Bangsa Indonesia menolak pemusatan kekayaan hanya dimiliki dan dikuasai oleh segilintir orang.
III. PROFIL PELAJAR PANCASILA
Beriman, bertakwa kepada Tuhan yag maha Esa, bergotong royong, bernalar kritis, kreatif, inovatif, mandiri, berkebhinekaan global
IV. SARANA DAN PRASARANA
1. Buku Teks 4. Handout materi
2. Laptop/Komputer PC 5. Papan tulis/White Board 7. Infokus/Proyektor/Pointer
3. Akses Internet 6. Lembar kerja 8. Referensi lain yang mendukung
V. TARGET PESERTA DIDIK
Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar.
VI. MODEL PEMBELAJARAN
Blended learning melalui model pembelajaran dengan menggunakan Project Based Learning (PBL) terintegrasi pembelajaran berdiferensiasi berbasis Social Emotional Learning (SEL).
KOMPONEN INTI
I. TUJUAN PEMBELAJARAN
A. Peserta didik mampu menjelaskan kedudukan dan fungsi Pancasila.
B. Peserta didik mampu menghayati pentingnya kedudukan dan fungsi Pancasila.
C. Peserta didik mampu mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan.
II. PEMAHAMAN BERMAKNA
Peserta didik menyadari bahwa mempelajari materi PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
III. PERTANYAAN PEMANTIK
Apa yang menjadi dasar pengambilan Pancasila sebagai pandangan hidup ?
Apa saja nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Indonesia yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari ?
IV. KEGIATAN PEMBELAJARAN
PERTEMUAN KE 5
Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)
Mengucapkan salam
Saling bersalaman sebelum proses pembelajaran
Apersepsi: guru bertanya, “Anak-anak, siapa yang tadi mencium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah?”
Sebelum proses pembelajaran dimulai, salah satu siswa diminta maju ke depan kelas untuk memimpin doa bersama
Menyapa dan berbincang sedikit dengan 2–3 siswa
Menciptakan suasana kelas yang kondusif/ menyenangkan
Menyampaikan rencana pembelajaran hari itu
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan mengaitkan dengan nilai sopan santun.
Menyerukan yel-yel pembelajaran PPKn
Menyanyikan lagu nasional Garuda Pancasila
Kegiatan Inti ( 60 menit)
Guru menunjuk beberapa siswa untuk mereview terkait materi subbab Pancasila sebagai Dasar Negara yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya
Guru menanyakan ke siswa jika masih ada materi yang belum dipahami terkait subbab Pancasila sebagai Dasar Negara. Guru atau siswa yang lain bisa saling memberikan pendapatnya
Selanjutnya, guru meminta 2–3 siswa menjelaskan tentang materi yang telah di pelajari di rumah terkait subbab Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa, lalu men diskusikannya. antara siswa bisa saling memberikan pendapat atau pandangannya
Guru membentuk kelas menjadi 4 grup dan masing-masing grup dibagi LKPD
Guru memutar video terkait kedudukan dan fungsi Pancasila
Siswa menyimak dan menganalisis isi dan materi pada video tersebut
Siswa diminta membaca tambahan informasi pada Lembar Kerja siswa dan mengerjakan tugasnya.
Salah seorang perwakilan masing-masing grup mempresentasikan hasil pekerjaannya
Grup lain memberikan pertanyaan terkait presentasi dari pemateri
Kegiatan Penutup (10 Menit)
Siswa didampingi guru untuk membuat kesimpulan dari materi yang baru dipelajari
Guru meminta siswa untuk menyampaikan refleksi,. salah. satunya. meminta. siswa. secara. subjektif menyatakan Apa Manfaat Bagi-Ku (AMBAK) terkait pembelajaran hari ini
Guru.melakukan.klarifikasi.terkait.materi.pembelajaran yang sudah dilakukan
Menyerukan bersama yel PPKn
Guru menunjuk salah satu siswa untuk memimpin doa penutup
Guru membuat catatan atau penilaian terhadap siswa dari aspek sikap & pengetahuan selama proses pertemuan ini
=================================================================
LEMBAR KERJA SISWA
A. Asal-usul Pancasila, Dasar Negara Republik Indonesia
Kita semua tentu sudah paham apa itu Pancasila beserta isinya. Namun, tahukah kamu bahwa Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia bukanlah sesuatu yang tercipta dalam sekejap. Ia merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan berbagai usulan dan perdebatan.
Sejarah lahirnya Pancasila bermula dari janji kemerdekaan yang diberikan oleh Perdana Menteri Jepang saat itu, Kuniaki Koiso kepada bangsa Indonesia pada 7 September 1944. Janji tersebut dilontarkan Jepang untuk mendapatkan dukungan bangsa Indonesia dalam perang melawan tentara sekutu. Namun, janji tersebut tidak terlaksana hingga Jepang memberikan janji kemerdekaan yang kedua pada tanggal 29 April 1945 melalui Maklumat Gunseikan.
Maklumat Gunseikan salah satunya memuat pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang tugasnya adalah merumuskan dasar negara bagi Indonesia yang merdeka. BPUPKI awalnya terdiri dari 70 anggota, 62 di antaranya adalah orang Indonesia dan 8 anggota istimewa dari Jepang sebagai observer.
Sidang pertama BPUPKI berlangsung pada 29 Mei – 1 Juni 1945 di Gedung Chuo Sangi In (sekarang dikenal sebagai Gedung Pancasila), Jakarta. Pada saat ini, beberapa anggota BPUPKI, termasuk Mohammad Yamin, Soepomo, dan Ir. Soekarno memberikan usulan mengenai bahan-bahan konstitusi dan dasar negara Indonesia.
Mohammad Yamin pada tanggal 29 Mei 1945 mengemukakan lima dasar negara:
1.Peri Kebangsaan
2.Peri Kemanusiaan
3.Peri ke-Tuhanan
4.Peri Kerakyatan
5.Kesejahteraan Rakyat
Namun, usulan ini berbeda dengan usulan tertulis yang kemudian disampaikan oleh Moh. Yamin, yaitu:
1.Ketuhanan Yang Maha Esa
2.Kebangsaan Persatuan Indonesia
3.Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
4.Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Pada 31 Mei 1945, Soepomo Ikut menyampaikan usulan dasar negara, yaitu:
1.Persatuan
2.Kekeluargaan
3.Keseimbangan lahir dan batin
4.Musyawarah
5.Keadilan Rakyat
Selain Moh. Yamin dan Soepomo, Ir. Soekarno juga menyampaikan usulannya pada tanggal 1 Juni 1945 yang kemudian dikenal sebagai hari lahirnya Pancasila. Ir. Soekarno dalam pidatonya yang berjudul “Lahirnya Pancasila” pada tanggal 1 Juni 1945, mengusulkan konsep awal Pancasila. Namun, rancangan Pancasila yang diusulkan oleh Soekarno pada waktu itu berbeda dengan Pancasila yang kita kenal saat ini. Perbedaannya terletak pada susunan redaksi dan sistematika. Konsep Pancasila Soekarno saat itu adalah:
1.Kebangsaan Indonesia
2.Internasionalisasi atau peri kemanusiaan
3.Mufakat atau demokrasi
4.Kesejahteraan
5.Ketuhanan yang berkebudayaan
B. Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara
Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa, termasuk Ir. Soekarno, pada 1 Juni 1945. Kedudukannya sebagai dasar negara dapat ditinjau dari berbagai aspek utama, yaitu historis, kultural, yuridis, dan filosofis.
Aspek Historis: Pancasila dirumuskan sebagai fondasi negara Indonesia Merdeka, digali dari nilai-nilai luhur budaya dan pandangan hidup masyarakat Indonesia untuk mempersatukan keragaman suku, agama, dan adat istiadat. Ini menjadi kesepakatan final yang memadukan perbedaan pandangan bangsa.
Aspek Kultural: Pancasila mencerminkan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, berfungsi sebagai simbol integrasi yang menjaga kesatuan di tengah keberagaman. Ia menjadi pandangan hidup yang mengarahkan aktivitas sehari-hari masyarakat, termasuk dalam interaksi sosial dan hubungan dengan alam
Aspek Yuridis: Pancasila tercantum secara eksplisit dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebagai empat alinea pertama, yang mengikat secara hukum. Ia menjadi sumber dari segala sumber hukum nasional, sebagaimana ditegaskan dalam Ketetapan MPR No. III/MPR/2000 dan MPR No. XVIII/MPR/1998. Semua peraturan negara harus selaras dengan Pancasila; yang bertentangan dinyatakan tidak berlaku.
Aspek Filosofis: Pancasila adalah ideologi negara yang bersifat terbuka, berfungsi sebagai falsafah hidup yang memandu tujuan nasional seperti mencapai masyarakat adil dan makmur. Ia menjadi ukuran konstitusionalitas hukum, memastikan penyelenggaraan negara yang bersih, berwibawa, dan melindungi hak warga negara.
Secara keseluruhan, kedudukan Pancasila menjadikannya sebagai norma dasar tertinggi (staatsfundamentalnorm) yang tidak boleh diubah, memastikan Indonesia sebagai negara Pancasila yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.
C. Fungsi Pancasila sebagai Dasar Negara
Pancasila memiliki fungsi multifaset dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang diimplementasikan melalui lima sila: (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan (5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Berikut adalah 9 fungsi utama berdasarkan sumber terpercaya:
Sebagai Ideologi Negara: Pancasila menjadi landasan falsafah negara yang mengatur pemerintahan dan kebijakan, memastikan konsistensi dengan cita-cita luhur bangsa.
Sebagai Dasar Negara: Berfungsi sebagai pijakan hukum tetap yang mengikat semua aparatur negara, termasuk dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan kesejahteraan merata.
Sebagai Pandangan Hidup Bangsa: Memberikan arahan nilai-nilai untuk aktivitas sehari-hari, mencakup kehidupan pribadi, sosial, dan negara, agar selaras dengan sila-sila Pancasila.
Sebagai Jiwa dan Kepribadian Bangsa: Membentuk mentalitas dan perilaku bangsa yang unik, membedakan Indonesia dari bangsa lain melalui sikap gotong royong dan toleransi.
Sebagai Sumber Hukum: Pancasila adalah sumber tertinggi dari segala peraturan, memastikan hukum nasional berlandaskan kerohanian dan keadilan.
Sebagai Perjanjian Luhur: Sebagai musyawarah hasil perjuangan kemerdekaan, Pancasila mengikat semua warga untuk menjaga integritas bangsa.
Sebagai Pemersatu Bangsa: Memelihara kesatuan di tengah keberagaman, mencegah konflik, dan memperkuat identitas nasional.
Sebagai Pedoman Pembangunan: Mengarahkan tujuan nasional menuju masyarakat adil makmur, termasuk dalam ekonomi, sosial, dan spiritual.
Sebagai Falsafah Hidup: Menyatukan norma dan nilai yang benar serta adil, memandu kehidupan bermasyarakat untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Fungsi-fungsi ini saling terkait, memastikan Pancasila tetap relevan di era modern, termasuk menghadapi globalisasi sambil menjaga identitas nasional.
D. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa
1. Pendahuluan
Pancasila merupakan dasar negara, ideologi nasional, sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia. Sebagai pandangan hidup (way of life), Pancasila berfungsi sebagai pedoman utama bagi seluruh warga negara dalam berpikir, bersikap, dan bertindak di segala aspek kehidupan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menggambarkan kepribadian, budaya, dan cita-cita luhur bangsa Indonesia yang berlandaskan pada moral, kemanusiaan, dan ketuhanan. Dalam konteks pendidikan dan pembinaan karakter, Pancasila menjadi sumber nilai yang menuntun arah pengembangan peserta didik agar memiliki integritas dan tanggung jawab kebangsaan.
2. Hakikat Pancasila sebagai Pandangan Hidup
Secara konseptual, pandangan hidup bangsa adalah seperangkat nilai, norma, dan prinsip yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, Pancasila sebagai pandangan hidup bermakna bahwa setiap sila dalam Pancasila menjadi sumber nilai dan moral yang harus diwujudkan dalam perilaku individu maupun kolektif masyarakat Indonesia.
Pancasila berfungsi sebagai landasan dalam menentukan arah kehidupan nasional, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun pendidikan. Nilai-nilai Pancasila menjadi pedoman untuk mencapai kehidupan yang harmonis, adil, dan sejahtera sesuai dengan cita-cita bangsa sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.
3. Makna Nilai Tiap Sila dalam Kehidupan
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Menjadi dasar pengakuan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Nilai ini menuntun masyarakat untuk beriman, bertakwa, serta menghormati perbedaan agama dan kepercayaan orang lain.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Menegaskan pentingnya pengakuan terhadap harkat dan martabat manusia. Setiap warga negara harus menjunjung nilai kemanusiaan, keadilan, dan menjauhi sikap diskriminatif.
3. Persatuan Indonesia
Mengandung nilai persaudaraan dan nasionalisme. Pancasila menuntun bangsa Indonesia agar mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan serta menjaga keutuhan NKRI.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Menjadi pedoman bagi kehidupan demokrasi Indonesia yang berlandaskan musyawarah, menghargai pendapat orang lain, dan menjunjung keputusan bersama.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Mengandung nilai pemerataan, solidaritas sosial, serta keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
4. Fungsi Pancasila sebagai Pandangan Hidup
Pancasila memiliki beberapa fungsi strategis, antara lain:
Sebagai pedoman hidup, yang mengarahkan sikap dan perilaku warga negara sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Sebagai dasar moral dan etika, dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan permasalahan bangsa.
Sebagai pemersatu bangsa, yang mengikat seluruh elemen masyarakat dalam keragaman budaya, suku, dan agama.
Sebagai landasan pembangunan nasional, yang menjadi sumber inspirasi dan arah kebijakan negara.
Sebagai filter budaya, dalam menghadapi arus globalisasi dan pengaruh luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa.
5. Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Implementasi nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup dapat diwujudkan dalam berbagai tindakan nyata, antara lain:
Menghormati perbedaan agama dan keyakinan antar warga.
Mengembangkan sikap gotong royong dan solidaritas sosial.
Mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam penyelesaian masalah.
Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keberagaman.
Menegakkan keadilan dan menghindari tindakan yang merugikan kepentingan umum.
Dalam konteks pendidikan, guru berperan penting menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui pembelajaran, keteladanan, dan pembiasaan karakter di lingkungan sekolah.
6. Kesimpulan
Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila merupakan pedoman fundamental dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Nilai-nilai Pancasila menjadi sumber moral, arah pembangunan, serta pemandu dalam mewujudkan kehidupan yang adil, makmur, dan beradab. Oleh karena itu, setiap warga negara—terutama pendidik—memiliki tanggung jawab untuk menanamkan, menginternalisasi, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam proses pendidikan.
LAMPIRAN 3
GLOSARIUM
Budaya : adat istiadat
Karakter : nilai-nilai yang sudah terinternalisasi dalam diri seseorang, bias juga disebut watak
Norma : aturan
NKRI : negara Kesatuan Republik Indonesia
Proyek kewarganegaraan : suatu kegiatan siswa dengan terjun langsung ke masyarakat untuk melihat permasalahan yang ada dan mencarikan alternatif solusi
LAMPIRAN 4
Daftar Pustaka
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). (2020). Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Jakarta: BPIP RI.
Kaelan. (2013). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
Notonagoro. (1975). Pancasila: Dasar Falsafah Negara. Jakarta: Bina Aksara.
Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Supriyanto dan rekan guru se-Indonesia dalam kompilasi MERDEKA MENDIDIK Bandung, Madza
( Penulis tuangkan kebiasaan mencium tangan dalam sebuah tulisan )

LAMPIRAN 5 PERTANYAAN
Pertanyaan Uraian
1. Jelaskan pengertian Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.
2. Mengapa Pancasila disebut sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak bagi warga negara Indonesia?
3. Bagaimana hubungan antara Pancasila sebagai pandangan hidup dengan Pancasila sebagai dasar negara?
4. Sebutkan dan jelaskan fungsi utama Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa!
5. Bagaimana penerapan nilai sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kehidupan masyarakat yang majemuk?
6. Berikan contoh nyata penerapan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab di lingkungan sekolah!
7. Mengapa nilai persatuan Indonesia sangat penting untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
8. Jelaskan bagaimana nilai musyawarah dalam sila keempat dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah!
9. Bagaimana peran guru dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup kepada peserta didik?
10. Jelaskan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam mengamalkan Pancasila sebagai pandangan hidup di era globalisasi saat ini.
RENTANG NILAI
A : 86 - 100
B : 76 - 85
C : 66 - 75
D : - 65
Daftar Nama Siswa Kelas 8B
No | nama | Poin A | Poin B | Poin C | Poin D | Ket |
1 | Abu Sofyan Al Afghani | |||||
2 | Achmad Syahrul Mubarok | |||||
3 | Adrian Fikri Assyidiq | |||||
4 | Ahmad Fikri Ulil Fikroh | |||||
5 | Alung Azzam Saputra | |||||
6 | Amir Muzaki | |||||
7 | Aqil Muzaqi | |||||
8 | Asfar Raza Syaukat | |||||
9 | Ashad Ma'Ruf Mukhfillah | |||||
10 | Azka Gilang Pranata | |||||
11 | Fadil Ashlakhudin | |||||
12 | Faiz Al Azmi | |||||
13 | Fatih Zidan Khariri | |||||
14 | I'Wazul Ulum | |||||
15 | Irfan Al Muzakir | |||||
16 | Khafidhurrizqi | |||||
17 | Khoerul Ilham | |||||
18 | Maulana Afif Nugroho | |||||
19 | Maulana Khamim Mukafa | |||||
20 | Mohammad Syifa Mutammam | |||||
21 | Mu'Adz Alif Falah | |||||
22 | Muhamad Rizki Hidayatuloh | |||||
23 | Muhammad Salman Al Farisi | |||||
24 | Muhammad Tsani Putra Ramadhan | |||||
25 | Mukhamad Iqbal Jalaluddin | |||||
26 | Mukhammad Haikal Al Jinan | |||||
27 | Retvan Hakim | |||||
28 | Rhaesan Alghani Mars | |||||
29 | Rido Rafi Reynaldi | |||||
30 | Rizky Fajri Muadzin | |||||
31 | Rois Munfadhil | |||||
32 | Syafiq Ibrahim Bagustyo | |||||
33 | Tsaqib Ngizul Umam | |||||
34 | Zaki Maulana | |||||
35 | Abu Sofyan Al Afghani | |||||
36 | Achmad Syahrul Mubarok | |||||
37 | Adrian Fikri Assyidiq | |||||
38 | Ahmad Fikri Ulil Fikroh | |||||
39 | Alung Azzam Saputra | |||||
40 | Amir Muzaki |
LAMPIRAN 6 REFLEKSI
NAMA : Amir Muzaki
NO ABSEN 40
Isilah pertanyaan dibawah ini dengan cara mengisi Ya/ Tidak!
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran? IYA
Guru memberikan materi yang menarik?IYA
Guru memberikan tugas sesuai minat?.IYA
Guru menyampaikan materi pembelajaran dengan jelas? IYA
Guru memberikan kesempatan berpendapat? IYA
Guru membantu kesulitan belajarmu? IYA
Guru memberikan penilaian pada tugas yang dikerjakan? IYA
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan menuliskan pendapatmu!
Bagaimana perasaanmu setelah mengikuti pembelajaran, jelaskan ?
Senang sekali karena ketika membuat poster boleh memilih sesuai kesukaan saya.
NAMA : Alung Azzam Saputra
NO ABSEN 39
Isilah pertanyaan dibawah ini dengan cara mengisi Ya/ Tidak!
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran? IYAGuru memberikan materi yang menarik?IYA Guru memberikan tugas sesuai minat?.IYA
Guru menyampaikan materi pembelajaran dengan jelas? IYA
Guru memberikan kesempatan berpendapat? IYA
Guru membantu kesulitan belajarmu? IYA
Guru memberikan penilaian pada tugas yang dikerjakan? IYA
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan menuliskan pendapatmu!
Bagaimana perasaanmu setelah mengikuti pembelajaran, jelaskan ?
Senang sekali karena bisa memberikan saran kepada teman tentang Suatu yang tidak disukai.
NAMA : Ahmad Fikri
NO ABSEN 38
Isilah pertanyaan dibawah ini dengan cara mengisi Ya/ Tidak!
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran? IYA
Guru memberikan materi yang menarik?IYA
Guru memberikan tugas sesuai minat?.IYA
Guru menyampaikan materi pembelajaran dengan jelas? IYA
Guru memberikan kesempatan berpendapat? IYA
Guru membantu kesulitan belajarmu? IYA
Guru memberikan penilaian pada tugas yang dikerjakan? IYA
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan menuliskan pendapatmu!
.Bagaimana perasaanmu setelah mengikuti pembelajaran, jelaskan ?
Senang sekali karena diawal pelajaran sama bu guru diberitahu seoarang atlet yang berprestasi walaupun hanya punya satu kaki.saya jadi merasa bersyukur
NAMA : Sugeng Marsono
NIP -
JABATAN : Guru PKN.
Isilah pertanyaan dibawah ini dengan cara mengisi Jawaban singkat!
Guru melakukan strategi yang berpihak pada murid?.IYA
Guru melakukan strategi yang sesuai kebutuhan murid?.IYA
Guru memberikan kesempatan belajar kepada murid sesuai kemampuannya? IYA
Apakah menurut anda strategi yang dilakukan dapat memberikan manfaat bagimurid? IYA
Jawablah pertanyaan berikut sesuai kondisi yang di amati.
Menurut anda apa kelebihan dari pembelajaran yang dilakukan?
Pembelajaran yang dilakukan lebih membuat siswa aktif dan melatih anak untuk berpikir kritis yaitu ketika memberikan saran kepada orang lain dan juga kreatif dalam menuangkan ide yang sesuai minat murid.
Menurut anda apa yang perlu ditingkatkan dari pembelajaran yang dilakukan? Kegiatan membuat poster membutuhkan alokasi yang lebih lama sehingga perludisesuaikan alokasi waktunya.
Komentar
Posting Komentar