Rumus Singkat Nahwu Bagi Pemula

 

  Rumus Singkat Nahwu Bagi Pemula

Penyusun Ustadz Miswan Sa’id Alawy edit ulang oleh Supriyanto

1.   Setelah fiil (   ﻓﻌﻞ     ) pasti ada fail ( ﻓﺎﻋﻞ   )

2.   Setelah fiil mutaddi (  ﻤﺗﻌﺪﻱ ﻓﻌﻞ  ) pasti ada maful bih ( ﻤﻔﻌﻮﻞ ﺒﻪ )

3.   Setelah fiil (   ﻓﻌﻞ   ) tidak mungkin jer

4.   Jama ‘ muannats salim ( ﻠﻢ ﺍﻠﺴﺎ  ﺍﻠﻤﺆﻨﺚ ﺠﻤﻊ  ) tidak mungkin fatah

5.   Isim diawal kalimat menjadi mubtada ﻤﺒﺘﺪﺁ ) ) setelahnya ada khobar

6.   Jer majrur dhorof diawal kalimat menjadi khobar muqoddam setelahnya pasti ada mubtada muakhor  hukumnya rofa contohnya

ﻓﻰ ﺍﻠﺠﻨﺔ ﻨﻬﺮ  

7.   Jer majrur dhorof setelahﻜﺄ ﻨﺄ  (kaanaa ) menjadi khobar muqoddam  ﻜﺄ ﻨﺄ   kaanaa, sesudahnya pasti ada isim kaana muakhor hukumnya rofa,contoh   ﻓﻰ ﺍﻠﺠﻨﺔ ﻨﻬﺮ    ﻜﺄ ﻨﺄ

8.    Jer majrur dhorof setelah ﺍﻦ ( inna) menjadi khobar muqoddam        ﺍﻦ ( inna) setelahnya pasti ada isim inna yang muakhor, hukumya nashab, contoh  ﻓﻰ ﺍﻠﺠﻨﺔ ﻨﻬﺮ       ﺍﻦ

9.   Dhomir muttasil

ﻫﻣﺎ ﻫﻢ

Jika bersambung dengan isim maka menjadi  mudhof ilaih, contoh ﺒﻳﺗﻙ

Jika bersambung dengan fiil maka menjadi maf’ul bih ,contoh

  ﺰﻳﺪ ﻀﺮﺒﻙ

10.     Isim setelah dhorof menjadi mudhof ilaih

11.     Isim setelah kalimat-kalimat berikut menjadi mudhof ilaih (Kulli , jami’i, duuna, ghoiri,  siway, liajli ﻷﺠﻞ ﺴﻮﻯ ﻏﻳﺮ ﺪﻮﻦ  ﺠﻤﻳﻊ ﻜﻞ

12.     Jawab ﻠﻮ (lau), kebanyakan berupa fiil madhi yang diawali lam ibtidak  ( la ) dengan harokat fathah.contoh ﺃﮦﹲ ﻠﻌﻠﻤﻪ  ﻗﺮ ﻠﻮ

(lau qoroahu la’limahu)

13.     Gabungan dua isim atau lebih disebut idhofah

-       Isim pertama disebut mudhof tanpa al dan tanwin

-       Isim kedua disebut mudhof ilaih hukumnya jer

14.     Isim setelah innama menjadi mubtada, contoh

   ﺒﺍﻠﻨﻳﺔ ﺃﻷﻋﻤﺎﻞ ﺇﻨﻤﺎ

15.     Isim setelah       ﺃﻤﺎﱣ amma menjadi mubtada dan khobarnya diawali fa

16.     Yang membutuhkan jawab( ﺍﻦﹾ  ﻤﻦ    ﺇﻨﺃ  ﻠﻮ  ﻠﻤﺎ ) in, man, idza, lau, lammaa

17.     Jawab syarat  biasanya berupa fiil mudhori, jazem atau kalimat yang diawali fa

18.     Fiil amar pasti sudah punya fail dhomir, jadi hanya membutuhkan maf’ul bih

19.     Setelah ( ﺃﻋﻧﻰ  , ﻳﻌﻧﻰ / a’inii,  ya’nii ) dibaca nashob menjadi ma’ful bih

20.     Wakadzalika    ﻮﻛﺫﺍﻠﻚ ,wakadzaﻮﻛﺫﺍ   menjadi khobar muqodam, isim setelahnya menjadi mubtada muakhor hukumnya rofa.

21.     Famin ﻓﻣﻦ wamin ﻮﻣﻦ menjadi khobar muqodam, setelahnya pasti mubtada muakhor hukumnya rofa.

22.      ﺍﻦ An dan fiil berkedudukan seperti isim, harus punya kedudukan , bisa jadi fail, maf’ul bih, mubtada, khobar dll.

23.     Setelah ﺍﻦ inna seringkali ada lam ibtida artinya sungguh, bisa masuk pada isim atau khobarnya.

      ﺍﻦ ﻓﻰ ﺫﻠﻚ ﻠﻌﺑﺮﺓ  

24.     Fiil pada bab 5 pasti lazim tidak punya maf’ul dan tidak bisa dimabni majhul.

25.     Fiil pada bab infa’ala ( ﻧﻓﻌﻞ   ) pasti lazim tidak punya maf’ul dan tidak bisa di mabni majhulkan .

26.     Fiil-fiil yang mempunyai 2 maf’ul bih : ﺍﻋﻃﻰ a’tho(y),  ﺠﻌﻞ ja’ala,      ﻳﻮﺀﺗﻰ yu(k)ti(y),  ﺁﺗﻰ ata(y),   ﺳﻤﻰ sama(y).

Jika dimabni majhulkan maka punya 1 maf’ul bih u’thiya, ju’ila, yu(k)ti(y), ata(y), sumiya.

27.     Fiil yang kebanyakan muta’addi (punya maf’ul bih) yaitu bab af’ala, fa’’ala. (  ﺃﻓﻌﻞ ,  ﻓﻌﳳﻞ  )

28.     Fiil yang kebanyakan tidak punya maf’ul bih yaitu bab tafa’’ala  ﺗﻓﻌﱣﻞ , tafaa ’ala.  ﺗﻑﺎﻋﻞ

29.      Fiil yang kebanyakan dimajhul ghusia ‘ala, u’miya ‘ala, tuwuffaya , ruwiya ‘an, ruwiya anna , yusannu, yundabu, yustahabbu, syufiya, yusyfa.

30.     Jama yang berwazan mafaa ‘iilu, mafaa ‘ilu tidak boleh ditanwin dan jernya menggunakan fathah.

31.     Bisyarti an, bisyartinya tidak boleh ditanwin dan jernya menggunakan fathah.

32.     Falyadhul, walyadhul,  lam amr artinya hendaklah , menjazemkan fiil mudhori.  Jika tanpa fa atau wa misal liyadhul dibaca lamnya dibaca li.

33.     Setelah puluhan dibaca nashob menjadi tamyiz misal khomsuna ayatan(apane), sedangkan setelah ratusan dibaca jer, menjadi mudhof ilaih , misal khomsumiati ‘aamin.

34.     Setelah bin pasti jer menjadi mudhof ilaih, sedangkan bin menjadi badal mengikuti i’rob nama sebelumnya misal husainu bnu ‘aliyyin bni abii thoolibin.

35.     Isim setelah haesu dibaca rofa menjadi khobar dari mubtada yang dibuang misal min haesu huwal ilmu = min haesul ilmu  .

36.     Isimnya laa linafyii aljinsi dibaca fathah tanpa al dan tanwin contoh laa haula.

37.     Setelah ni’ma/bi(a)sa pasti menjadi fa’il

38.     Akhodza dan ja’ala jika disambung dengan fi’il mudhori , artinya mulai ( termasuk af’alul muqorobah)

Contoh ja’ala zaidun yaqrou wa akhoda yaquulu artinya zaid mulai membaca dan mulai mengatakan .

39.     Hamzah bab af’ala dan hamzahnya fi’il mudhori artinya( saya) adalah hamzah qotho’a , jika ditengah kalimat harus dibaca , contoh wa ahsanu, wa ikroomuhu, wa adhribu.

40.     Selain kedua hamzah diatas kebanyakan hamzah washola maka jika berada ditengah kalimat tidak dibaca

contoh (                                                                               )

41.     ‘alaika bi : kamu harus

Iyyaaka walghibata : dibaca nashob artinya takutlah kamu dari ghibah , termasuk isim fail yang bermakna ( ihdzar, ilzam)

42.     Anna,  inna masuk pada isim

    An, in  kebanyakan masuk pada fiil

43.     Matsalu artinya perumpamaan ( biasanya diawal kalimat), mitslu artinya seperti.

44.     Idz artinya karena , setelahnya jadi mubtada, contoh idzil muroodu artinya karena adapun yang dimaksud.....

Idzaa ketika masuk pada fiil

45.     Aktsaru, ahsanu dan semisalnya .....

-       Bisa jadi fiil artinya memperbanyak atau berbuat baik

-       Bisa jadi isim tafdil artinya paling

Contoh

-       ahsanu attalaamiidzu artinya telah berbuat baik murid –murid itu

-       ahsanu attalaamiidzu paling bagus murid itu

46.     kuffaarun jama taksir dari kaafirun artinya orang-orang kafir, sedangkan kafaarun mubalaghoh dari kaafirun artinya sangat kafir.

47.     Ciri-ciri na’at pantas diberi makna yang...dan sesuai dengan man’ut dalam mudzakar/muannast, mema’rifatkan dan nakiroh.

48.     Ciri-ciri badal pantas diberi makna yaitu......dan apabila lafadz sebelumnya (yang dibadali ) dibuang maka bisa menggantikan kedudukan dan maknanya tidak bisa berubah

Contoh jaa alhabibu ‘umaru

49.     Ciri-ciri maf’ul mutlak

-       Pantas diberi makna dengan

-       Berbentuk masdar yang sesuai dengan fi’ilnya

50.     Ciri-ciri hal

-       Pantas diberi makna dalam keadaan......

-       Kebanyakan berupa isim fa’il atau isim maf’ul

51.     Ciri-ciri khobar pantas diberi makna adalah

52.     La anna ditengah kalimat artinya karena sesungguhnya

 La anna diawal kalimat artinya sungguh adapun hendaknya,

Contoh : la anna aquuma billaili ahabbu ilayya minaddunyaa artinya sungguh adapun hendaknya dimalam hari adalah lebih aku senangi daripada dunya

53.     Fiil mudhori hukumnya rofa kecuali ada amil nashob atau jazm

54.     Fiil mudhori hukumnya nashob jika ada li (supaya), hatta, kai, an, lan.

55.     Fiil mudhori hukumnya jazm jika ada li (hendaklah) laa, lam, man, in.

56.     Alayata , alhadiitsa dibaca nashob menjadi mafulbih dari fiil yang dibuang, asalnya tamamu alhadiitsa

57.     Nahwu dibaca rofa menjadi khobar dari mubtada yang dibuang , setelahnya menjadi mudhofilaih

Contoh: wa dzalika nahwu.....

58.     Fiil setelah hatta hukumnya nashob ,

Contoh hatta yablugho, sedangkan isim yang jatuh setelah hatta hukumnya jer ,

Contoh hiya hatta mathla’il fajri

59.     Jumlah yang jatuh isim nakiroh menjadi sifat , sedangkan isim yang jatuh setelah isim marifat menjadi hal (nakiroh sifat, marifat hal )

Contoh roaitu rojulan yusholla artinya saya melihat laki-laki yang sholat.

Roaitu zaidan yusholla artinya saya melihat zaid dalam keadaan sholat

60.     Jika setelah illa ada jumlah mubtada , khobar jadi hal

Contoh laa ta’kul illa anta jaai’un ( kamu jangan makan kecuali kamu lapar)             

 

61.     Dalam lafadz wa’lam annahu dhomir ha adalah dhomir sya’n artinya sesungguhnya keadaan khobarnya inna pasti jumlah yang jatuh setelah innahu

62.     Walaa harromnaa min syain lafadz min dalam contoh tersebut adalah tambahan (min zaaidatin), aslinya  Walaa harromnaa min syaian, ciri-cirinya jika ada isim nakiroh kemasukan min dan sebelumnya ada nafi/istifham/nahi berarti min nya adalah tambahan (min zaaidatin)

63.     Maa min ahadin........illaa .... min adalah zaaidah (tambahan) dan ahadun menjadi mubtada tanda rofanya dhommah muqoddaroh khobarnya jatuh setelah illaa.

64.     Khobarnya maa/laisa kebanyakan dimasuki (ba ) zaidah

Contoh alaisallohu biahkamil haakimiina lafadz ahkami menjadi khobarnya laisa hukumnya nashob, tanda nashobnya adalah fathah muqoddaroh. Ba nya tak perlu diterjemahkan.

 

65.     Tanda-tanda awal kalimat wa, fa, imma, bal, isim mausul, idz, wawu  dinamakan wawu isti’naf bukan wawu ‘athof,

66.     Cara menentukan kedudukan kalimat

-       Cari tanda awal kalimat

-       Jika setelahnya berupa isim maka menjadi mubtada, maka setelahnya menjadi khobar

-       Jika setelahnya berupa jer majrur atau dzorof maka jadikan khobar dan cari mubtada nya

-       Jika setelahnya berupa fiil cari fail nya

Contoh

= Tabaarokalladziinbiyadihil mulku

= Alladzii adalah isim mausul (termasuk tanda awal kalimat)

= Biyadihi jer majrur diawal kalimat menjadi khobar muqoddam

= Almulku mubtada muakhor hukumnya rofa  

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal UP PPG PKN lengkap dengan jawabannya yakni sebagai berikut.

laporan kegiatan literasi smp

Bank Soal sosiologi klas 12