RANGKUMAN PENELITIAN MODUL 5 SOSIOLOGI PAKET C NUJU PINTER

 A. Bagaimana menjadi  Peneliti Apa itu peneliti? 

      Barangkali kita akan merasa pusing duluan ketika kita akan melakukan penelitian, disebabkan kurang bekalnya kita dan tidak terbiasa menulis. mari kita belajar secara pelan-pelan agar bisa lebih paham. Mungkin Anda pernah mendengar istilah atau kata tersebut. Kata peneliti merupakan bentuk aktivitas individu atau kelompok individu yang melakukan sebuah penelitian dengan menggunakan metode ilmiah. Pada arti peneliti terdapat dua kata kunci, yaitu “penelitian” dan “metode ilmiah”. Arti sederhana kata penelitian sendiri merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan kepada suatu analisis secara sistematis, metodologis dan juga konsisten serta ber tujuan untuk dapat mengungkapkan kebenaran mengenai hal yang terjadi dan mencari penyelesaian (solusi) terhadap masalah tersebut.Sedangkan arti sederhana “metode ilmiah” yaitu: cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Lalu apa yang dimaksud “ilmiah” yang ada pada penjelasan dalam kata “penelitian” dan “metode ilmiah”? 

     Penelitian dan metode dikatakan ilmiah jika dalam kegiatannya didasarkan pada karateristik keilmuan, yaitu:

 a. Logis/Rasional : Penyelidikan ilmiah adalah sesuatu yang masuk akal dan terjangkau oleh penalaran manusia. 

b. Empiris : Menggunakan cara-cara tertentu yang dapat diamati orang lain dengan menggunakan panca indera manusia. 

c. Sistematis : Menggunakan proses dengan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.

     Berdasarkan karakteristik ilmiah di atas, maka modal dasar untuk individu atau kelompok individu menjadi peneliti, antara lain:

 a. Objektif, yaitu bebas dari sentimen pribadi atau tidak mudah berprasangka sebelum menemukan fakta atau kebenarannya.

 b. Terbuka, dapat diulang oleh ilmuan lain dengan metode yang sama dan siap menerima pendapat atau kritik dari orang lain. 

c. Rasa ingin tahu, yaitu keingintahuan terhadap suatu hal. 

d. Faktual, yaitu setiap tindakan dan ucapan didasarkan pada fakta.

 e. Analitis, yaitu berpikis secara sistematis dengan didasarkan pada fakta dan teori yang relevan. 

f. Kritis, yaitu berpikir secara mendalam terhadap suatu hal. 

g. Solutif, yaitu bersifat mencari penyelesaian masalah

     Lalu apakah Anda memiliki bekal menjadi seorang peneliti? Hal ini mudah untuk diketahui oleh Anda sendiri. Selama ini apakah Anda pernah sesekali atau sering mengamati lingkungansekitar? Dan kemudian memikirkan suatu yang berkaitan dengan sebuah solusi atau inovasi untuk menyelesaikan masalah yang Anda lihat tersebut? Jika jawaban Anda adalah “Ya”, maka Anda sudah memiliki bekal menjadi seorang peneliti. Selain itu pasti Anda memiliki sebuah rasa ingin tahu terhadap suatu hal. Rasa ingin tahu ini merupakan salah satu sifat dasar yang dimiliki manusia. Sifat tersebut akan mendorong manusia bertanya untuk mendapatkan pengetahuan. Setiap manusia yang berakal sehat sudah pasti memiliki pengetahuan, baik berupa fakta, konsep, prinsip, maupun prosedur tentang suatu obyek (bisa manusia, hewan, benda, alam, atau lingkungan sekitar) yang dilihatnya. Bagaimana Anda mendapatkan pengetahuan? Pengetahuan yang kita miliki didasarkan pada adanya pengalaman atau interaksi antara diri Anda dengan orang lain atau dengan lingkungan sekitar. 

Secara umum, terdapat tiga jenis pengetahuan yang selama ini mendasari kehidupan manusia yaitu:

 (1) logika yang dapat membedakan antara benar dan salah; 

(2) etika yang dapat membedakan antara baik dan buruk; serta

 (3) estetika yang dapat membedakan antara indah dan jelek atau buruk. 

     Kepekaan indra yang dimiliki oleh Anda, di mana manusia pada dasarnya memiliki panca indra seperti indra penglihat (mata), indra pendengar (telinga), indra pembau/ pencium (hidung), indra pengecap (lidah) dan indra peraba (kulit). Panca indra inilah yang menjadi modal dasar dalam memperoleh pengetahuan tersebut. Perlu Anda ketahui, bahwa salah satu wujud pengetahuan yang dimiliki manusia adalah pengetahuan ilmiah yang lazim dikatakan sebagai “ilmu”. Ilmu adalah bagian pengetahuan, namun tidak semua pengetahuan dapat dikatakan ilmu. Ilmu adalah pengetahuan yang didasari oleh dua teori kebenaran yaitu koherensi dan korespondensi. Koherensi menyatakan bahwa sesuatu pernyataan dikatakan benar jika pernyataan tersebut konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Koherensi dalam pengetahuan diperoleh melalui pendekatan logis atau berpikir secara rasional. Korespondensi menyatakan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar jika pernyataan tersebut didasarkan atas fakta atau realitas. Koherensi dalam pengetahuan diperoleh melalui pendekatan empiris (didasarkan atas fakta yang terjadi). Dengan demikian, kebenaran ilmu harus dapat dijelaskan secara rasional dan dibuktikan secara empiris. Proses untuk mendapatkan ilmu agar memiliki nilai kebenaran harus dilandasi oleh cara berpikir yang rasional berdasarkan logika dan berpikir empiris berdasarkan fakta. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah melalui penelitian. Penelitian sebagai upaya untuk memperoleh kebenaran harus didasari oleh proses berpikir ilmiah yang dituangkan dalam metode ilmiah. Metode ilmiah adalah kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode ilmiah mengandung dua unsur penting yakni pengamatan (observation) dan penalaran (reasoning). Metode ilmiah didasari oleh pemikiran bahwa apabila suatu pernyataan ingin diterima sebagai suatu kebenaran maka pernyataan tersebut harus dapat diverifi kasi atau diuji kebenarannya secara empiris (berdasarkan fakta).

   Jenis penelitian begitu banyak tergantung peneliti akan melakukan jenis penelitian yang akan dihadapi. Lingkungan sekitar bisa menjadi lahan penelitian asalkan menarik, belum pernah diteliti orang lain dan hal baru serta dapat membantu kehidupan lingkungan.

      1. Berdasarkan manfaat penelitian, terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Penelitian murni (pure research), adalah penelitian yang bertujuan semata untuk pengembangan keilmuan dan berupaya menjelaskan pengetahuan yang sangat mendasar mengenai dunia sosial. 

b. Penelitian terapan (applied research), ialah penelitian yang mencoba untuk menyelesaikan masalah tertentu secara spesifi k dan hasilnya nanti dapat langsung digunakan sebagai dasar merekomendasikan langkah penanganan atau solusi.

2. Beberapa tipe penelitian terapan, diantaranya: 

a) Action research, yaitu penelitian terapan yang memperlakukan pengetahuan sebagai kekuatan dan menghapus garis pemisah antara penelitian dan tindakan sosial;

 b) Social impact assessment, yaitu penelitian yang bertujuan memperkirakan dampak sosial yang akan timbul atau menganalisis dampak sosial yang terjadi karena adanya sua tu proyek atau penerapan suatu kebijakan tertentu; dan 

 c) Evaluation research, yaitu mengukur efektivitas dari suatu kebijakan, program atau pro sedur dalam melakukan sesuatu. 

3. Berdasarkan tujuan penelitian, terbagi menjadi tiga, yaitu: 

a. Penelitian eksploratif, yakni penelitian yang dilakukan untuk menggali suatu gejala yang relatif masih baru. Dapat dikatakan penelitian ini didorong oleh keingintahuan terhadap suatu fenomena atau gejala yang selama ini belum pernah diketahui atau dirasakan. Tujuan dari penelitian eksploratif adalah mengembangkan gagasan dasar mengenai topik yang baru, sekaligus memberikan dasar bagi penelitian lanjutan.

 b. Penelitian deskriptif, dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih detil mengenai suatu gejala atau fenomena. Hasil akhir dari penelitian ini biasanya berupa tipologi ataupun pola-pola dari suatu fenomena. 

 c. Penelitian deskriptif bisa juga dikatakan merupakan kelanjutan dari penelitian eksploratif. Penelitian eksploratif telah menyediakan gagasan dasar, sehingga penelitian deskriptif dituntut untuk mengungkapkannya secara lebih mendetail. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah menggambarkan mekanisme sebuah proses dan menciptakan seperangkat kategori atau pola

d. Penelitian eksplanatif, dilakukan untuk menemukan penjelasan mengenai mengapa suatu gejala atau fenomena terjadi. Hasil penelitian eksplanatif lazimnya berupa gambaran tentang hubungan sebab akibat. Tujuan penelitian eksplanatif adalah menghubungkan pola-pola yang berbeda namun memiliki keterkaitan dan menghasilkan pola hubungan sebab akibat.

 4. Berdasarkan dimensi waktu, terbagi menjadi tiga, yaitu:

 a. Cross sectional studies, yang membatasi studi tentang masyarakat pada satu obyek dan waktu tertentu saja; 

b. Longitudinal studies, berusaha mengungkap akibat dari suatu peristiwa yang berlangsungnya relatif lama; dan

 c. Ex-post facto studies, berupaya menelaah faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab dari realitas ataupun fenomena sosial aktual. 

 5. Berdasarkan jenis dan kualitas data, terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian yang bersifat mengumpulkan data yang dapat diukur, seperti besarnya penghasilan, frekuensi perilaku, dan sebagainya. Penelitian kuantitatif dapat berupa deskripsi statistik atau studi korelasional (hubungan se bab akibat). Menekankan pada pemahaman terhadap adanya obyek-obyek ilmu pengetahuan dan pernyataan-pernyataan ilmu pengetahuan (scientific preposition) yang memenuhi syarat-syarat dapat diamati (observable), diulang (repeatable), diukur (measurable), diuji (testable) dan diramalkan (predictable)

b. Penelitian dengan pendekatan kualitatif, yakni penelitian yang mengutamakan segi kualitas data. Mengumpulkan data, informasi, keterangan secara terperinci mengenai obyek yang akan diteliti. Berfungsi bukan untuk menguji teori, melainkan menemukan teori. Oleh sebab itu, persoalan pembahasan dan analisis teori seperti yang lazim digunakan dalam pene litian kuantitatif tidaklah penting, walapun aktivitas telaah pustaka tetap diperlukan untuk penyesuaian konteks, masalah dan tema penelitian.

C. Tahapan Penelitian Sosial Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka tahapan dalam penelitian sosial secara umum terbagi menjadi tiga, yaitu:

 1. Tahap Persiapan Sebelum terjun ke lapangan seorang peneliti harus melaksanakan beberapa persiapan yang terdiri dari: 

 a. Memilih tema/topik penelitian; 

b. Melaksanakan studi pendahuluan; 

c. Merumuskan masalah penelitian; 

d. Membuat hipotesis (jika menggunakan pendekatan kuantitatif); 

e. Menentukan metode dan pendekatan penelitian;

 f. Menentukan variabel dan sumber data; dan 

 g. Membuat instrumen penelitian.

 2. Tahap Pelaksanaan Setelah melakukan persiapan, seorang peneliti kemudian melaksanakan kegiatan penelitian yang meliputi: 

 a. Mengumpulkan data;

 b. Analisis data; dan

 c. Membuat kesimpulan. 

3. Tahap Penulisan Laporan Penulisan pelaporan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses penelitian. Peneliti dalam menulis laporan penelitian haruslah sesuai dengan sistematika penulisan yang sudah ditentukan atau dirumuskan

D. Rancangan Penelitian Sosial Rancangan penelitian sosial atau biasa disebut dengan proposal penelitian merupakan sebuah rencana tertulis peneliti yang berisi gambaran singkat tentang pokok-pokok perencanaan seluruh penelitian yang tertuang dalam suatu kesatuan naskah secara ringkas, jelas, dan utuh. 

Adanya rancangan penelitian ini memberikan manfaat rancangan penelitian sosial antara lain: 

1. Rancangan penelitian sosial memberi pegangan yang jelas kepada peneliti dalam melakukan penelitian. 

2. Rancangan penelitian sosial menentukan batas-batas penelitian yang berhubungan dengan tujuan penelitian. 

3. Rancangan penelitian sosial memberikan gambaran tentang apa yang harus dilakukan dan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi saat penelitian.

 Sedangkan untuk syarat sebuah rancangan penelitian sosial, antara lain: 

1. Sistematis, maksudnya bahwa unsur-unsur yang ada dalam rancangan penelitian sosial harus tersusun dalam urutan yang logis.

 2. Konsisten, maksudnya bahwa terdapat kesesuaian diantara unsur-unsur urutan rancangan penelitian sosial. 

3. Operasional, maksudnya bahwarancangan penelitian sosial dapat menjelaskan bagaimana penelitian itu dilaksanakan.

 Adapun isi rancangan penelitian sosial, antara lain terdiri dari: 

1. Latar belakang masalah Pada bagian ini diuraikan tentang dasar-dasar argumen yang melatarbelakangi masalah yang sedang dibahas. Sehingga uraian yang btertuang pada bagian latar belakang masalah ber hubungan dengan alasan secara umum suatu masalah yang sedang diangkat

2. Rumusan masalah penelitian Rumusan masalah merupakan himpunan langkah yang akan digunakan dalam membahas suatu masalah. Biasanya uraian kalimat berupa kalimat tanya. Suatu penelitian perlu ada rumusan masalah agar peneliti lebih mudah cakupan materi dan langkah yang akan digun akan dalam memecahkan suatu masalah. Contoh rumusan masalah: “Apakah kegiatan “nongkrong” pada para pelajar berpengaruh pada tingkat penggunaan narkoba?” atau “Apa dampak yang dirasakan remaja putus sekolah setelah mengikuti pendidikan kesetaraan?”.

3. Tujuan dan manfaat penelitian Tujuan dan manfaat penelitian merupakan uraian tentang harapan peneliti tentang suatu masalah yang dibahas. Sedangkan manfaat penelitian berisi tentang uraian nilai guna penelitian itu, baik bagi peneliti maupun orang lain.

 4. Tinjauan kepustakaan Tinjauan pustaka berisi tentang penelitian-penelitian terdahulu yang berhubungan dengan masalah yang sedang dibahas dan relevan. 

5. Hipotesis Berupa uraian tentang kesimpulan sementara peneliti tentang masalah yang sedang diteliti. Biasanya hipotesis digunakan pada pendekatan penelitian kuantitatif. Oleh karena itu pada pendekatan kualitatif, hipotesis tidak digunakan.

 6. Batasan konsep Yaitu langkah peneliti untuk membatasi masalah atau konsep tentang masalah yang sedang dibahas agar tidak menimbulkan penafsiran ganda tentang masalah yang sedang dibahas. 

7. Metodologi penelitian Berisi langkah-langkah yang digunakan peneliti untuk memperoleh data dan mengolah menjadi sebuah laporan penelitian

Sumber modul Sosiologi 5 Depdikbud Paket C Nuju Pinter. Selasa,16 November 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal UP PPG PKN lengkap dengan jawabannya yakni sebagai berikut.

laporan kegiatan literasi smp

Bank Soal sosiologi klas 12