Profesi Guru Sebagai Proses Pencarian Jati Diri
Profesi Guru Sebagai Proses Pencarian
Jati Diri
Kebiasaanku
saat masih kecil, aku suka termenung di pinggir
sungai Banjaran di kota Purwokerto. Entahlah sedang memikirkan apa, aku
tak tahu, terlihat gemericik aliran sungai yang deras dan jernih. Pikiranku
melayang jauh ke dalam sungai sampai tak terasa aku pun melamun, untuk apa,
mengapa, dan harus bagaimana aku harus mengarungi hidup. Ternyata setelah aku
besar aku harus menerima berbagai cobaan dan rintangan yang silih berganti
seperti aliran sungai tak pernah berhenti. Kebiasaanku yang lain senang
menonton wayang. Lakon “Dewa Ruci” yang dimainkan sang dalang begitu bersemangat memainkan cerita
tokoh sentral Bima. Perjalanan batin Bima atas perintah Guru Durna mencari guru
sejati. Padahal Durna berusaha menjerumuskan Bima, ternyata Bima lulus mendapatkan
apa yang dicarinya yaitu guru sejati.
Dua
kebiasaanku itu membawaku kepada proses hidup yang sedang aku jalani. Aku besar
dan tumbuh dengan didikan keras dan disiplin tinggi. Ayahku yang seorang
militer menjadikan aku seorang pribadi yang tangguh menghadapi cobaan hidup.
Tahun 1982 saat sekolah dasar aku pernah tidak naik kelas 4, karena tidak masuk
sekolah sampai enam bulan karena sakit liver. Saat itu perasaanku begitu malu
dan menurunkan semangat belajar serta semangat hidup. Alhamdulillah berkat
bimbingan orang tua aku bisa bangkit kembali. Kelas 6 aku meraih rangking dua. Mudah bagiku masuk
SMP favorit di kota Purwokerto. Saat kelas 3 SMP,
sering sekali aku melihat percekcokan keluarga. Hal ini ternyata berpengaruh pada semangat
belajar, walau begitu aku bisa lolos seleksi.masuk sekolah SMA
favorit. Akhirnya aku lulus tahun 1991
dengan nilai pas-pasan. Aku tak berharap banyak untuk kuliah karena kondisi
ekonomi orang tua yang pas-pasan.
Aku putus asa untuk dapat melanjutkan
kuliah.
Aku
terdampar di ibukota, ikut bersama Bu Dhe beliau kakak ibuku. Beliau memiliki
usaha rumah makan yang lumayan ramai pengunjung. Sehari-hari aku disibukkan
oleh pekerjaan. Ternyata suasana pekerjaan tidak mendukung, sehingga aku tidak
betah bekerja. Aku pun ikut paman, adik dari bapakku yang berjanji akan
mencarikan pekerjaan. Sampai beberapa bulan aku masih menunggu ternyata aku
masih menganggur juga. Rasa bosan di kontrakan, aku jalan-jalan sambil membawa
lamaran pekerjaan. Ternyata ada lowongan pekerjaan, aku pun mengajukan lamaran
pekerjaan. Aku pun diterima sampai beberapa bulan ternyata ijazahku hilang di
perusahaan itu. Aku pun berusaha mencari ijazah pengganti, sembari istirahat di
rumah dan memikirkan kejadian itu. Satu bulan di rumah, kemudian aku berangkat
lagi di rumah pamanku. Ternyata masih juga aku menjadi pengangguran. Memang nasibku
penuh liku-liku. Bahkan ada yang
mengajakku kerja di proyek. Tawaran aku terima daripada aku harus menumpang
terus. Selepas lebaran tahun 1992 aku di rumah. Tak sengaja aku menyapu, ada sobekan
koran “Suara Pembaharuan” berisi
lowongan kerja di kapal. Aku pun mengajukan lamaran dan akhirnya diterima kerja sebagai kelasi kapal. Beberapa
tahun kemudian, tahun 1995 aku jatuh sakit . Aku diizinkan cuti sakit sampai sembuh
aku boleh bekerja lagi. Suatu hari setelah kondisi badan agak membaik.
Akhir
tahun 1995 aku ditawari untuk melamar di
Perumka. Aku mencoba melamar dan ternyata lolos seleksi. Akhirnya aku bekerja,
sambil kuliah seperti yang dicita-citakan dulu. Tahun 2002 aku menikah dan dikarunia
beberapa anak. Ternyata gaji pas-pasan
yang aku terima berbeda jauh saat aku bekerja di kapal. Gaji yang diterima untuk
menghidupi keluarga tidaklah mencukupi. Terpaksa aku menutupi kebutuhan hidup
dengan pinjam uang di bank. Kondisi ini berlangsung sampai 2014 ternyata tidak
ada perubahan signifikan. Akhirnya aku
mengajukan pensiun dini. Sambil introspeksi diri menatap jauh ke belakang,
memperbaiki segala kesalahan.
Tahun
2015 atas kebaikan pemilik Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Nuju Pinter, Bapak
Muhyi Fadil, S.Pd, aku diberi kesempatan untuk membantu mengajar. Tahun 2019
bulan Maret aku ditawari untuk ikut membantu SMP Aqwiya Cilongok Banyumas. Sekolah
ini adalah berbasis keagamaan menyatu dengan pondok pesantren Nurul Huda.
Siswa-siswa yang tercatat adalah merupakan santri yatim piatu dan tidak mampu.
Para santri sekolah dan mengaji dengan biaya gratis. Total santri sekitar 1500
dibiayai oleh pemilik pondok, Kyai Muhammad Abror. Rasa asah, asih, dan asuh
yang dipraktekkan bliau menimbulkan aspirasi kepadaku.
Apakah ini jalan hidupku, teringat kecil saat
menonton pagelaran wayang kulit dengan lakon “Bima Suci”. Apakah ini menjadi
titik balik perjalanan batin merengkuh ketentraman hati. Seperti Bima menjalani
hidup penuh cobaan di darat, udara, dan laut. Tiga kali aku bekerja, ternyata
aku sekarang mengalami ketentraman batin. Apalagi sekarang aku sudah
mendapatkan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Ternyata aku
harus kembali kepada jati diriku untuk menjadi apa adanya. Sejak kecil aku
gemar memberi arahan atau contoh suri teladan layaknya seorang guru. Seperti
yang pernah disampaikan oleh almarhum Bapak Zaeni seorang karyawan Tata Usaha
di sekolah. Bila melihat bakat dan minatku, katanya aku cocok menjadi seorang
guru.
Supriyanto,SH
SMP
Aqwiya Cilongok Banyumas
Komentar
Posting Komentar